Finance
Australia Waspada Tertinggal Saat Pasar Global Berubah Oleh Tokenisasi Blockchain
Australia Waspada Tertinggal Saat Pasar Global Berubah Oleh Tokenisasi Blockchain

Australia Waspada, pasar keuangan global kini berada di ambang transformasi besar (Tokenisasi aset), yakni proses mengonversi kepemilikan aset dunia nyata menjadi bentuk digital yang dapat di transaksikan di blockchain, di proyeksikan akan mengubah wajah keuangan global seperti halnya internet mengubah komunikasi. Laporan dari Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan bahwa pada tahun 2030, total nilai aset yang akan di tokenisasi bisa melampaui USD 16 triliun.
Australia, salah satu negara dengan sistem keuangan paling stabil di dunia, kini menghadapi dilema strategis. Di satu sisi, negara ini memiliki ekosistem finansial mapan, infrastruktur digital kuat, dan lembaga keuangan yang terpercaya.
Menurut laporan Australian Securities and Investments Commission (ASIC), sebagian besar inovasi tokenisasi global bergerak lebih cepat daripada kesiapan Australia. Regulator tersebut mengingatkan bahwa Australia berisiko tertinggal dalam revolusi keuangan baru ini, terutama bila kebijakan publik dan industri tidak segera beradaptasi.
Setiap token memiliki data unik dan dapat di perdagangkan di platform blockchain yang aman, transparan, serta dapat di audit publik. Hal ini menghapus perantara, mempercepat proses transaksi, dan membuka akses investasi bagi lebih banyak kalangan.
Namun di Australia, walau sudah muncul proyek-proyek perintis seperti tokenisasi real estate dan kredit karbon, skalanya masih jauh di bawah negara lain. Salah satu proyek paling menonjol, Project Acacia, di jalankan oleh Northern Trust bersama beberapa lembaga keuangan lokal untuk menguji tokenisasi aset keuangan dan kredit karbon di Australia. Proyek ini membuktikan kesiapan teknologi dan potensi ekonomi yang besar, namun juga menunjukkan hambatan regulasi dan infrastruktur yang belum sepenuhnya siap untuk komersialisasi masif.
Australia Waspada, ASIC menilai bahwa keunggulan Australia di bidang stabilitas finansial dan governance bisa menjadi modal besar, namun negara ini harus segera mengambil langkah proaktif jika ingin memanfaatkan potensi pasar global yang sedang berubah cepat.
Regulasi, Infrastruktur, Dan Tantangan Struktural Yang Menahan Australia
Regulasi, Infrastruktur, Dan Tantangan Struktural Yang Menahan Australia, keunggulan Australia dalam sistem keuangan tradisional justru menjadi salah satu alasan lambannya adaptasi ke tokenisasi. Sistem yang sudah mapan seringkali sulit berubah cepat. Dalam konteks tokenisasi, kerangka hukum, sistem perizinan, dan regulasi investor menjadi penghambat utama.
Tokenisasi aset menyentuh ranah yang belum sepenuhnya di atur oleh hukum keuangan tradisional. Di bawah peraturan Australia saat ini, sebagian besar digital tokens yang mewakili nilai ekonomi di klasifikasikan sebagai “produk keuangan.” Itu berarti penerbit tokenisasi harus memperoleh lisensi, tunduk pada aturan transparansi, dan memastikan kepatuhan terhadap standar perlindungan konsumen.
Hal tersebut baik dari sisi keamanan, tetapi di sisi lain membuat inovasi menjadi lambat. Banyak perusahaan fintech atau pengembang blockchain menilai proses perizinan terlalu kompleks dan memakan waktu, sementara negara lain seperti Singapura menawarkan model regulasi yang lebih adaptif melalui sandbox inovasi.
Selain regulasi, infrastruktur blockchain skala nasional juga masih terbatas. Walaupun Australia memiliki sejumlah perusahaan teknologi keuangan besar, belum ada platform tokenisasi terintegrasi yang mampu melayani aset dalam berbagai kategori (real estate, surat utang, saham, karbon, dan sebagainya).
Hambatan berikutnya adalah kurangnya interoperabilitas antar sistem blockchain dan integrasi dengan perbankan konvensional. Bank-bank di Australia masih berhati-hati untuk membuka sistem mereka bagi ledger publik. Mereka khawatir soal risiko keamanan siber, keabsahan data lintas yurisdiksi, serta isu pencucian uang.
Laporan ASIC 2025 juga menyoroti tantangan sumber daya manusia. Australia masih kekurangan tenaga profesional yang memahami baik aspek hukum keuangan maupun teknologi blockchain tingkat lanjut.
Namun bukan berarti semua gelap. Pemerintah Australia mulai mengambil langkah-langkah strategis. Salah satunya adalah peluncuran National Digital Assets Roadmap, yang menargetkan pembuatan kerangka kerja nasional bagi aset digital dan tokenisasi hingga 2027. Selain itu, program Innovation Hub milik ASIC kini di perluas untuk membantu startup yang ingin menguji proyek tokenisasi dengan pengawasan regulator.
Dampak Ekonomi Dan Risiko Sistemik Bagi Australia
Dampak Ekonomi Dan Risiko Sistemik Bagi Australia, jika di implementasikan dengan benar, tokenisasi dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Australia yang signifikan. PwC Australia memperkirakan bahwa penerapan tokenisasi aset dunia nyata dapat meningkatkan efisiensi ekonomi hingga AUD 25 miliar per tahun. Menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor teknologi keuangan, dan memperluas basis investor domestik.
Salah satu keuntungan utama tokenisasi adalah peningkatan likuiditas. Aset yang sebelumnya sulit di jual, seperti properti atau infrastruktur, bisa di pecah menjadi token kecil dan di perdagangkan secara global. Investor dari luar negeri bisa memiliki sebagian kecil dari aset Australia tanpa harus melalui proses kepemilikan kompleks.
Kedua, tokenisasi memperluas akses investasi untuk masyarakat umum. Saat ini banyak instrumen investasi bernilai tinggi hanya tersedia bagi investor institusional. Tokenisasi memungkinkan investor ritel berpartisipasi dalam kelas aset baru, seperti obligasi hijau atau proyek energi terbarukan. Ini bisa mendukung pemerataan ekonomi dan mendemokratisasi pasar modal.
Namun, di balik potensi itu terdapat risiko besar. Regulator menyoroti bahwa pasar tokenisasi tanpa pengawasan dapat menciptakan gelembung spekulatif seperti yang pernah terjadi pada kripto. Nilai aset digital dapat melonjak tanpa dasar ekonomi nyata, yang berisiko menimbulkan kerugian besar bagi investor ritel.
Risiko lain adalah kegagalan sistemik jika infrastruktur blockchain tidak memiliki standar keamanan tinggi. Kebocoran data, serangan siber, atau kesalahan dalam smart contract bisa memicu kerugian lintas sektor. Karena tokenisasi berpotensi melibatkan ribuan investor lintas negara, satu kegagalan teknis bisa berdampak global.
Selain itu, ada kekhawatiran soal pengawasan lintas yurisdiksi. Aset yang di terbitkan di Australia bisa di miliki oleh investor di Eropa atau Asia. Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi sengketa hukum? Bagaimana aturan perpajakan lintas batas di berlakukan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang masih belum terjawab dalam kerangka hukum internasional.
Meski demikian, banyak pihak meyakini manfaat tokenisasi jauh melebihi risikonya. Tokenisasi bukan hanya soal teknologi, tapi tentang membuka nilai ekonomi yang selama ini terkunci.”
Strategi Nasional: Jalan Australia Menuju Ekonomi Tokenisasi
Strategi Nasional: Jalan Australia Menuju Ekonomi Tokenisasi, untuk memastikan tidak tertinggal, Australia perlu bergerak dengan strategi nasional yang komprehensif. Langkah pertama adalah mempercepat pembentukan regulasi aset digital terpadu. Regulasi yang jelas dan modern akan memberi kepastian hukum bagi investor dan perusahaan fintech, sekaligus melindungi masyarakat. Pemerintah di harapkan mengesahkan Digital Asset Regulation Bill yang kini sedang di bahas di parlemen sebelum akhir 2026.
Langkah kedua adalah membangun infrastruktur nasional untuk tokenisasi. Pemerintah dapat bekerja sama dengan bank sentral dan lembaga keuangan besar untuk membentuk Australian Tokenisation Network (ATN) — platform yang memungkinkan penerbitan, perdagangan, dan penyelesaian aset tokenisasi secara aman dan terstandardisasi.
Ketiga, kolaborasi publik-swasta harus di perkuat. Tokenisasi hanya bisa sukses jika regulator, bank, perusahaan teknologi, dan akademisi bekerja bersama. Contohnya, proyek Project Acacia bisa di perluas menjadi pusat riset dan pengembangan aset digital nasional.
Keempat, investasi pada sumber daya manusia dan literasi digital. Pemerintah dan universitas perlu mencetak tenaga ahli di bidang keuangan digital, hukum aset tokenisasi, dan keamanan blockchain. Tanpa SDM yang siap, strategi digital hanya akan berhenti di atas kertas.
Terakhir, posisi internasional Australia juga perlu di tekankan. Negara ini dapat memanfaatkan perjanjian perdagangan digital dengan kawasan Asia-Pasifik untuk mengekspor keahlian tokenisasi dan menjadi hub keuangan digital kawasan.
Jika langkah-langkah tersebut di jalankan dengan konsisten, Australia tidak hanya akan mengejar ketertinggalannya, tetapi berpotensi menjadi pemain utama dalam ekonomi tokenisasi global yang sedang terbentuk. Dunia sedang bergerak cepat menuju masa depan keuangan digital. Dan Australia kini berada di persimpangan yang akan menentukan apakah ia akan menjadi pengikut atau pemimpin dalam revolusi ekonomi baru ini Australia Waspada.