Site icon BeritaTV24

Kasus Tuberkulosis Turun Untuk Pertama Kali Sejak Pandemi, Kata WHO

Kasus Tuberkulosis Turun untuk Pertama Kali Sejak Pandemi, Kata WHO

Kasus Tuberkulosis Turun Untuk Pertama Kali Sejak Pandemi, Kata WHO

Kasus Tuberkulosis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis laporan terbaru yang menyebutkan bahwa kasus Tuberkulosis (TB) global akhirnya menunjukkan penurunan untuk pertama kalinya sejak awal pandemi COVID-19. TB, yang selama ini menjadi salah satu penyakit infeksi paling mematikan di dunia, sempat mengalami kemunduran penanganan akibat alokasi sumber daya yang bergeser ketika COVID-19 melanda.

WHO mencatat penurunan sekitar 2% kasus global dari 2023 ke 2024. Angka tersebut memang terlihat kecil, tetapi para epidemiolog menyebutnya “kemajuan sangat penting” mengingat kenaikan tajam kasus sejak 2020 dan 2021. Pada periode tersebut, pelayanan kesehatan terputus di banyak negara, fasilitas kesehatan di alihkan untuk menangani COVID-19, tenaga medis kekurangan kapasitas, dan pasien TB kesulitan mengakses pengobatan rutin.

Beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah melaporkan peningkatan besar dalam kemampuan pelacakan kasus, termasuk penggunaan alat diagnostik cepat seperti Tes GeneXpert. Penggunaan alat tersebut memungkinkan tenaga medis mendapatkan hasil pemeriksaan dalam hitungan jam, sehingga pasien bisa langsung mendapat terapi. Negara dengan beban TB tinggi seperti India, Indonesia, Filipina, dan Pakistan menunjukkan peningkatan pelaporan kasus yang lebih akurat dan menurunnya angka keterlambatan diagnosis.

Beberapa negara kini mulai menyediakan aplikasi pelaporan TB digital, di mana pasien bisa mencatat jadwal minum obat, melaporkan efek samping, dan menerima pengingat dari petugas kesehatan. Sistem digital ini membantu memastikan bahwa pasien menyelesaikan pengobatan selama enam bulan penuh, sehingga risiko resistensi obat dapat di tekan. TB resistan obat (MDR-TB) adalah ancaman besar karena membutuhkan pengobatan lebih lama, lebih mahal, dan lebih sulit di toleransi.

Kasus Tuberkulosis, laporan WHO juga menegaskan bahwa TB tetap menjadi penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di antara penyakit menular, mengalahkan HIV/AIDS. Meskipun angka kematian akibat TB juga sedikit turun, jumlahnya masih berada pada level tinggi dan membutuhkan perhatian serius.

Dampak Pandemi COVID-19 Pada Penanganan TB Dan Pembelajaran Pentingnya

Dampak Pandemi COVID-19 Pada Penanganan TB Dan Pembelajaran Pentingnya, pandemi COVID-19 meninggalkan dampak signifikan pada sistem kesehatan di seluruh dunia, dan salah satu penyakit yang paling terdampak adalah Tuberkulosis. Sebelum pandemi, tren penurunan TB sebenarnya cukup stabil, meskipun lambat. Banyak fasilitas pemeriksaan TB di alihfungsikan menjadi pusat tes COVID-19, tenaga medis sektor TB turut di serap untuk menangani lonjakan pasien COVID, dan rantai pasokan obat TB terganggu.

Salah satu dampak paling serius adalah menurunnya deteksi TB hingga lebih dari 20% di banyak negara berpendapatan rendah. Artinya, ratusan ribu kasus TB tidak terdiagnosis dan menjadi sumber penularan yang tidak tercatat. Ini menyebabkan TB “menggoreng dalam diam” selama pandemi berlangsung. Ketika layanan kesehatan kembali pulih, kasus TB yang baru terdeteksi menunjukkan gejala lebih berat, lebih progresif, dan lebih sulit di tangani karena banyak pasien telah menunda pemeriksaan selama berbulan-bulan. WHO menyebut kondisi ini sebagai “cicilan dampak pandemi” yang baru terlihat sekarang.

Selain masalah deteksi, pasien yang sudah terdiagnosis TB juga mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan pengobatan. Lockdown, pembatasan mobilitas, dan kekhawatiran terhadap paparan COVID membuat banyak pasien tidak datang ke fasilitas kesehatan untuk mengambil obat. Padahal, pengobatan TB membutuhkan konsistensi tanpa putus. Jika pasien berhenti minum obat, bakteri bisa berkembang menjadi resisten. Pandemi memperburuk risiko MDR-TB di banyak negara, yang kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi sistem kesehatan global.

Walau demikian, pandemi juga memberikan pembelajaran penting untuk masa depan penanganan TB. Salah satunya adalah pentingnya digitalisasi layanan kesehatan. Selama pandemi, beberapa negara memperkenalkan sistem telemedisin untuk mengawasi pasien TB. Pasien dapat berkonsultasi secara daring, mengirimkan laporan kondisi harian, atau bahkan melakukan verifikasi obat melalui video call.

Ketika COVID-19 naik, fokus terhadap TB menurun drastis—dan itu menciptakan konsekuensi besar. Kini banyak negara mengintegrasikan pemantauan penyakit pernapasan, sehingga tes TB dan COVID bisa di lakukan bersamaan.

Kemajuan Teknologi Dan Vaksin Dalam Upaya Mengakhiri TB

Kemajuan Teknologi Dan Vaksin Dalam Upaya Mengakhiri TB, selain pemulihan layanan kesehatan, kemajuan teknologi dan penelitian memainkan peran besar dalam tren penurunan kasus TB. WHO menyoroti bahwa penggunaan alat diagnostik modern, sistem pemantauan digital, serta pengembangan vaksin baru menjadi faktor kunci yang mempercepat penanganan TB.

Selama bertahun-tahun, dunia mengandalkan vaksin BCG yang sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu. BCG terbukti cukup efektif pada anak, tetapi tidak begitu efektif untuk mencegah TB paru pada orang dewasa, yang merupakan bentuk paling menular. Saat ini terdapat lebih dari 15 kandidat vaksin TB yang sedang di uji klinis dengan berbagai mekanisme kerja, termasuk vaksin berbasis mRNA seperti yang di gunakan untuk COVID-19. Harapan besar tertuju pada dua kandidat vaksin yang menunjukkan efektivitas awal lebih dari 50%.

Teknologi diagnostik juga mengalami peningkatan drastis. Alat GeneXpert telah menjadi standar emas diagnostik cepat TB dan MDR-TB. Selain itu, beberapa negara mulai menguji alat portabel berbasis AI yang dapat mendeteksi TB melalui analisis foto rontgen. Dengan teknologi ini, daerah terpencil yang tidak memiliki fasilitas radiologi bisa mendapatkan diagnosis hanya menggunakan smartphone atau tablet. Ini merupakan terobosan besar untuk negara berpendapatan rendah.

WHO juga menekankan pentingnya pengawasan digital untuk memastikan pasien menjalani pengobatan secara lengkap. Aplikasi pengingat minum obat dan sistem pemantauan berbasis video menjadi alat yang efektif untuk mengurangi putus obat. Beberapa negara melaporkan penurunan MDR-TB sejak teknologi ini di terapkan.

Pengembangan obat TB yang lebih pendek durasinya juga menjadi kabar baik. Regimen baru untuk beberapa jenis TB resistan kini hanya membutuhkan 6 bulan, tidak lagi 18–24 bulan seperti sebelumnya. Dengan durasi lebih pendek dan efek samping lebih ringan, pasien lebih mungkin menyelesaikan pengobatan.

Semua kemajuan ini memberikan harapan baru untuk strategi “End TB”. Namun WHO mengingatkan bahwa teknologi tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan kebijakan, pendanaan, dan edukasi publik.

Tantangan Global Dan Seruan WHO Untuk Memperkuat Upaya Menghapus TB

Tantangan Global Dan Seruan WHO Untuk Memperkuat Upaya Menghapus TB, meskipun kasus TB turun untuk pertama kalinya sejak pandemi, WHO memperingatkan bahwa dunia masih jauh dari target eliminasi TB 2030, penurunan ini belum cukup untuk mengejar target global pengurangan TB pada 2030 sesuai SDGs dan strategi “End TB”. Stigma ini menjadi faktor besar di negara Asia, Afrika, dan sebagian Eropa Timur.Pendanaan global untuk TB justru menurun dalam dua tahun terakhir, membuat banyak program skrining massal dan pencegahan terhambat.

Salah satu tantangan terbesar adalah TB resistan obat yang terus meningkat di beberapa negara Asia, Afrika, dan Eropa Timur. MDR-TB membutuhkan biaya pengobatan yang jauh lebih mahal, dan peluang kesembuhannya lebih rendah. Tanpa pendanaan yang cukup, negara-negara tersebut akan kesulitan menyediakan obat generasi baru yang lebih efektif.

Kendala lain adalah kesenjangan akses layanan kesehatan. Banyak pasien TB tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari fasilitas pemeriksaan. Mereka harus menempuh jarak panjang hanya untuk tes sputum atau mengambil obat. Tanpa dukungan logistik, banyak pasien akhirnya berhenti pengobatan.

Stigma sosial juga masih menjadi masalah utama. Banyak pasien enggan mengakui bahwa mereka memiliki TB karena takut di kucilkan. Stigma ini menyebabkan keterlambatan diagnosis, yang berujung pada penyebaran lebih luas.

WHO menyerukan negara-negara untuk meningkatkan investasi, memperluas skrining, memperkuat pelacakan kontak, memperbanyak fasilitas diagnostik, dan mempercepat distribusi vaksin TB baru ketika sudah tersedia. WHO juga meminta pemerintah mengintegrasikan penanganan TB ke dalam sistem universal health coverage.

Penurunan kasus ini adalah awal yang baik, tetapi WHO menekankan bahwa “dunia tidak boleh lengah.” TB tetap menjadi ancaman serius. Tanpa aksi cepat, penurunan ini bisa hanya sementara. Namun dengan kolaborasi global, kemajuan teknologi, dan pendanaan memadai, dunia memiliki peluang nyata untuk mengakhiri TB dalam satu generasi Kasus Tuberkulosis.

Exit mobile version