Site icon BeritaTV24

Tingkat Kematian Remaja Di Dunia Muda Jadi Krisis Baru — Studi Global Beban Penyakit

Tingkat Kematian Remaja Di Dunia Muda Jadi Krisis Baru — Studi Global Beban Penyakit

Tingkat Kematian Remaja Di Dunia Muda Jadi Krisis Baru — Studi Global Beban Penyakit

Tingkat Kematian Remaja, sebuah laporan terbaru dari Global Burden of Disease Study (GBD) 2025 memunculkan fakta yang mengkhawatirkan: tingkat kematian di kalangan remaja — khususnya kelompok usia 10 hingga 24 tahun — meningkat untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir di banyak negara, terutama di wilayah berpenghasilan rendah dan menengah.

Laporan ini, yang di terbitkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di bawah Universitas Washington, menyoroti perubahan tren global yang sangat mengkhawatirkan. Dalam dua puluh tahun terakhir, dunia berhasil menurunkan angka kematian bayi dan anak di bawah lima tahun secara signifikan. Namun, saat perhatian global berfokus pada anak-anak kecil dan lansia, kelompok remaja justru menjadi korban “generasi yang terabaikan”.

Menurut studi tersebut, pada 2024 terdapat 1,3 juta kematian remaja secara global, meningkat sekitar 12% di bandingkan tahun 2010. Penyebab utamanya bergeser — bukan lagi penyakit menular seperti malaria atau TBC. Melainkan cedera akibat kecelakaan lalu lintas, kekerasan, bunuh diri, serta komplikasi kesehatan mental dan gaya hidup tidak sehat.

Dr. Emmanuela Gakidou, penulis senior laporan GBD, menyebut fenomena ini sebagai “epidemi diam-diam” yang melanda dunia.

“Kita berbicara tentang generasi yang tumbuh di tengah perubahan sosial, digitalisasi, dan tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kematian mereka sering kali bukan karena kekurangan makanan, tetapi kekurangan perhatian.”

Selain itu, data menunjukkan kesenjangan yang mencolok antara wilayah. Afrika Sub-Sahara mencatat tingkat kematian remaja tertinggi. Yaitu 148 kematian per 100.000 populasi, di ikuti oleh Asia Selatan dan Amerika Latin. Sebaliknya, negara-negara Eropa Barat, Jepang, dan Korea Selatan mencatat angka di bawah 30 per 100.000.

Tingkat Kematian Remaja, namun, tren yang paling mengejutkan justru terjadi di negara berpendapatan menengah seperti Indonesia, Brasil, dan India, di mana kematian akibat kecelakaan motor, depresi, dan penyalahgunaan zat meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.

Penyebab Utama: Dari Kesehatan Mental Hingga Ancaman Gaya Hidup Modern

Penyebab Utama: Dari Kesehatan Mental Hingga Ancaman Gaya Hidup Modern, studi GBD menyoroti perubahan mendasar dalam penyebab kematian remaja. Jika pada tahun 2000 penyakit menular seperti malaria, HIV, dan infeksi saluran pernapasan mendominasi. Kini penyebab utama kematian adalah kecelakaan lalu lintas, bunuh diri, dan kekerasan antar remaja.

Peningkatan tajam kasus bunuh diri menjadi perhatian besar. Antara tahun 2010 hingga 2024, angka bunuh diri di kalangan remaja global naik 35%, menjadikannya penyebab kematian kedua terbesar setelah kecelakaan lalu lintas.

Faktor pemicunya kompleks — mulai dari tekanan akademik, kesepian, cyberbullying, hingga krisis identitas yang di perparah oleh media sosial. WHO melaporkan bahwa 1 dari 5 remaja di seluruh dunia mengalami gangguan kecemasan atau depresi, namun hanya 20% di antaranya yang menerima perawatan profesional.

Di sisi lain, gaya hidup modern juga membawa ancaman baru. Meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses, kurangnya aktivitas fisik, dan waktu layar berlebih menyebabkan peningkatan obesitas remaja hingga 80% dalam dua dekade. Obesitas kini di kaitkan dengan risiko tinggi diabetes tipe 2 dan penyakit jantung koroner yang mulai muncul bahkan pada usia di bawah 25 tahun.

Kecelakaan lalu lintas juga menjadi pembunuh besar. Di Asia Tenggara dan Afrika, lebih dari separuh korban kecelakaan motor adalah remaja berusia di bawah 24 tahun. Minimnya penggunaan helm, infrastruktur jalan yang buruk, serta kurangnya penegakan hukum menjadi penyebab utama.

Pakar kesehatan masyarakat dari UNICEF, Dr. Maria Elena Flores, menegaskan bahwa kematian remaja sering kali merupakan “cerminan kegagalan sistem”.

“Remaja bukan hanya korban penyakit, tetapi korban dari sistem sosial yang gagal menyediakan dukungan, pendidikan, dan ruang aman bagi mereka untuk tumbuh.”

Laporan GBD juga menunjukkan bahwa masalah kesehatan reproduksi masih menjadi penyebab signifikan kematian remaja perempuan, khususnya di wilayah Afrika dan Asia Selatan. Komplikasi kehamilan, persalinan dini, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan ibu menjadi faktor penyumbang utama.

Dampak Sosial-Ekonomi: Generasi Produktif Yang Hilang

Dampak Sosial-Ekonomi: Generasi Produktif Yang Hilang, kematian remaja bukan hanya tragedi manusiawi, tetapi juga kehilangan ekonomi besar bagi dunia. Menurut perhitungan Bank Dunia, setiap kematian remaja berarti hilangnya potensi produktivitas sekitar 1 juta dolar AS sepanjang hidupnya. Jika di kalikan dengan 1,3 juta kematian tahunan, maka dunia kehilangan potensi ekonomi hingga 1,3 triliun dolar per tahun.

Namun, dampaknya lebih dari sekadar ekonomi. Hilangnya remaja — generasi produktif yang akan memimpin masa depan — berarti hilangnya tenaga kerja, inovator, dan calon pemimpin. Di banyak negara berkembang, di mana lebih dari 50% populasi berusia di bawah 25 tahun, fenomena ini menjadi ancaman demografis serius.

Sebuah laporan pendamping GBD bahkan menyebut istilah “youth mortality trap” — jebakan kematian remaja. Di mana negara gagal memanfaatkan potensi bonus demografi karena tingginya angka kematian dan masalah kesehatan pada usia produktif awal.

Di Indonesia, misalnya, data Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan signifikan angka kematian akibat kecelakaan motor di kalangan usia 15–24 tahun dalam lima tahun terakhir. Hal serupa terjadi di Filipina dan Vietnam, yang kini menghadapi krisis serupa.

Krisis ini juga berdampak pada keluarga. Di banyak wilayah pedesaan, remaja menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ketika mereka meninggal, rumah tangga kehilangan sumber penghasilan utama, menyebabkan rantai kemiskinan semakin panjang.

Di sisi sosial, kematian remaja akibat kekerasan dan bunuh diri memicu trauma kolektif. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan kini bahkan memiliki program konseling permanen setelah meningkatnya kasus bunuh diri massal di kalangan pelajar.

Dr. Soumya Swaminathan, mantan Kepala Ilmuwan WHO, mengatakan:

“Kita sedang kehilangan generasi yang seharusnya menjadi jembatan menuju masa depan. Krisis ini bukan hanya statistik, tapi peringatan keras bahwa kebijakan kesehatan global harus berubah arah.”

Upaya Dan Seruan Global: Membangun Generasi Yang Bertahan

Upaya Dan Seruan Global: Membangun Generasi Yang Bertahan, sebagai respons terhadap laporan ini, WHO, UNICEF, dan UNFPA bersama IHME meluncurkan inisiatif global bertajuk “Adolescent Health 2030” — sebuah rencana aksi untuk menurunkan kematian remaja dunia sebesar 50% dalam lima tahun ke depan.

Program ini berfokus pada tiga prioritas utama: kesehatan mental, pencegahan kecelakaan, dan akses layanan kesehatan seksual-reproduktif. WHO menekankan pentingnya integrasi pendidikan kesehatan di sekolah, terutama untuk membangun kesadaran dini tentang risiko bunuh diri, penyalahgunaan zat, dan keselamatan jalan.

Negara-negara seperti Rwanda, Vietnam, dan Indonesia mulai menerapkan kebijakan nasional berdasarkan temuan GBD. Pemerintah Indonesia, misalnya, sedang merancang strategi nasional pencegahan kematian remaja melalui kampanye #HidupSehatRemaja dan pelatihan konselor sekolah di 5.000 SMA pada tahun 2026.

Sementara di Eropa, Uni Eropa memperluas pendanaan untuk penelitian “Youth Wellbeing Index”. Yang akan memantau kondisi psikologis dan sosial remaja di seluruh benua.

Selain upaya pemerintah, peran komunitas dan keluarga menjadi sangat penting. Para ahli menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Pendidikan digital untuk mencegah efek negatif media sosial, serta peningkatan fasilitas olahraga dan ruang publik aman bagi remaja.

“Kita harus berhenti menganggap remaja sebagai kelompok yang tangguh tanpa batas,” ujar Dr. Catherine Cho, psikolog anak dan remaja dari Seoul. “Mereka manusia yang sedang belajar mengenal dunia, dan di tengah ketidakpastian global, dukungan emosional adalah kebutuhan dasar, bukan kemewahan.”

Laporan GBD menutup laporannya dengan peringatan keras: jika dunia tidak segera bertindak, krisis ini dapat berlanjut dan menciptakan “dekade hilang” bagi generasi muda. Namun, dengan kebijakan yang tepat, generasi ini juga bisa menjadi kekuatan pendorong menuju masa depan yang lebih sehat dan adil.

Krisis ini bukan hanya masalah medis, melainkan persoalan sosial, ekonomi, dan moral. Ketika dunia berbicara tentang masa depan, yang sebenarnya dipertaruhkan adalah mereka: generasi muda yang menjadi jantung peradaban berikutnya Tingkat Kematian Remaja.

Exit mobile version